Fenomena Job Hugging, Dilema Para Pekerja di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Penulis : Prima Suci Maharani
Editor : Diva Novana Widia Putri
Surabaya, 28 Oktober 2025 - Belakangan ini muncul tren baru yang ramai diperbincangkan mengenai dunia para pekerja, yakni “Job Hugging”. Job hugging merupakan sebuah sikap ketika seorang karyawan yang enggan berpindah ke pekerjaan lainnya meskipun terdapat banyak peluang yang menjanjikan. Seperti tawaran gaji tinggi, jenjang karier, lingkungan kerja yang baik, hingga lokasi kerja yang dekat dengan tempat tinggal. Bahkan, beberapa perusahaan ada yang menawarkan mess.
Istilah job hugging ini ramai di kalangan generasi milenial dan generasi Z. Banyak karyawan yang memutuskan untuk bertahan diri di pekerjaan lama daripada mengambil risiko pindah, sebab mereka khawatir jika tawaran pekerjaan yang baru hanyalah formalitas semata.
Febrian, S.E., M.E., selaku dosen Program Studi (Prodi) S1 Eknonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menilai fenomena ini dari sudut pandang ekonomi institusional. “Job Hugging dapat dilihat sebagai respons terhadap biaya transaksi yang dirasakan terkait dengan transisi pekerjaan. Biaya ini meliputi waktu dan usaha yang diperlukan untuk mencari pekerjaan baru, potensi kehilangan manfaat, dan risiko yang terkait dengan memasuki lingkungan kerja yang tidak familiar. Institusi, termasuk sistem pendidikan dan kebijakan pasar tenaga kerja, memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan perilaku ini,” ungkapnya.
Fenomena ini didukung dengan data dari Amerika Serikat (AS) yakni tingkat pengunduran diri sukarela di AS pada 2025 hanya sebesar 2%. Artinya, para pekerja enggan berpindah ke pekerjaan baru. Pertumbuhan ekonomi yang lambat juga dapat memperkeruh situasi ketika suku bunga melonjak, maka perusahaan akan cenderung stagnan dan menahan proses perekrutan tenaga kerja.
Menurut dosen lulusan Ritsumeikan University, Jepang itu, untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh Job Hugging, beberapa langkah kebijakan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Memperkuat platform yang menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja dapat mengurangi gesekan di pasar tenaga kerja.
Menyediakan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri dapat meningkatkan keterampilan ketenagakerjaan pemuda.
Menerapkan kebijakan yang melindungi hak pekerja dapat meredakan ketakutan yang terkait dengan transisi pekerjaan.
Mendorong investasi di berbagai industri di berbagai wilayah dapat menciptakan lebih banyak peluang dan mengurangi ketimpangan regional.
Ia juga menambahkan bahwa mengatasi Job Hugging membutuhkan kebijakan terkoordinasi yang memperkuat ekonomi regional dengan meningkatkan akses ke pengembangan keterampilan dan menciptakan institusi pasar tenaga kerja yang kokoh. Bagi profesional muda, mengenali batasan struktural ini sambil secara strategis menavigasi peluang karier dapat mengubah apa yang tampak seperti kemandekan menjadi pengambilan keputusan yang terinformasi dan berorientasi masa depan, yang pada akhirnya berkontribusi pada pengembangan regional yang lebih adil.