DISKUSI EKSKLUSIF: PROF. MARKTANNER DAN MASA DEPAN EKONOMI INDONESIA
Penulis: Elyada Christi Octavia
Editor: Fafa Dwi Hari Widiyantoro
Surabaya, 6 Mei 2025 - Suasana berbeda tampak terasa di salah satu agenda internasional Program Studi Ekonomi yang diselenggarakan pada awal Mei 2025. Dengan mengangkat tema “Strategies and Insights: Building a Successful International Career in Economics,” acara ini menghadirkan narasumber utama Prof. Marcus Marktanner, PhD seorang pakar ekonomi pembangunan dan kebijakan publik internasional. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa kelas internasional angkatan 2023 dan 2024 yang tampak antusias mengikuti sesi demi sesi yang berlangsung secara interaktif. Selain membahas bagaimana membangun karier internasional di bidang ekonomi, acara ini juga menyuguhkan banyak wawasan baru yang jarang ditemui di bangku kuliah sehari-hari. Prof. Marcus dikenal sebagai akademisi yang berpengalaman di berbagai organisasi global sehingga pandangannya menjadi sorotan dalam kegiatan ini.

Selama sesi guest lecture berlangsung, Prof. Marcus Marktanner membahas sejumlah isu aktual, termasuk menanggapi salah satu kebijakan besar yang akan dijalankan oleh Presiden Prabowo, yaitu program ketenagakerjaan massal. Menurutnya, program ini bisa berdampak positif, tetapi cenderung hanya menyentuh masyarakat kelas bawah yang memang sangat membutuhkan bantuan langsung dalam bentuk pekerjaan. Ia menekankan bahwa jika Indonesia benar-benar ingin membangun ekonomi yang kuat seperti China, maka fokus utama harus diberikan pada pelatihan tenaga kerja dan pendidikan vokasional yang merata dan mudah diakses. Potensi Indonesia sangat besar dengan sumber daya alam yang melimpah dan populasi muda yang produktif sehingga jika diarahkan dengan strategi yang tepat, Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan Asia. Namun, menurut Prof. Marcus, hal itu hanya bisa tercapai jika kualitas sumber daya manusianya ditingkatkan, bukan sekadar mengandalkan proyek jangka pendek tanpa kesinambungan.

Interaksi antara mahasiswa dan Prof. Marcus pun berlangsung hangat dan kritis. Sejumlah pertanyaan menarik diajukan oleh peserta, menunjukkan bahwa isu-isu yang disampaikan benar-benar menyentuh realitas yang mereka rasakan. Salah satu pertanyaan yang mengundang perhatian datang dari seorang mahasiswa yang bertanya apakah seorang pemimpin negara seperti presiden perlu memiliki latar belakang akademik di bidang ekonomi agar dapat membawa arah pembangunan yang tepat. Pertanyaan lain yang tak kalah kritis berkaitan dengan batasan usia dalam lowongan kerja di Indonesia, yang menurut mereka tidak relevan jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang lebih mengedepankan kompetensi daripada umur. Ada pula pertanyaan soal ketimpangan kesempatan kerja yang dirasakan oleh mahasiswa dari kampus di luar tiga besar seperti UI, UGM, dan ITB, di mana banyak perusahaan besar cenderung hanya merekrut dari universitas top tersebut. Salah satu pertanyaan yang paling mengejutkan adalah mengenai kebijakan dari Gubernur Jawa Barat yang sempat menyatakan bahwa laki-laki harus melakukan Vasektomi agar mendapatkan bantuan sosial. Dalam diskusi, Prof. Marcus menyampaikan bahwa kebijakan tersebut dinilai kurang etis karena tidak mempertimbangkan prinsip keadilan dan kesetaraan gender. Ia menambahkan bahwa di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, perempuan juga harus memiliki nilai dan kemampuan mandiri agar tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan dalam rumah tangga.

Kegiatan ini
tidak hanya membuka cakrawala berpikir mahasiswa, tetapi juga memperkuat
pemahaman mereka tentang dinamika ekonomi global dan nasional dari sudut
pandang yang kritis dan berimbang. Dengan adanya interaksi langsung bersama
akademisi kelas dunia seperti Prof. Marcus Marktanner, mahasiswa memperoleh
perspektif baru yang tidak sekadar teoritis, tetapi juga sangat kontekstual
dengan realita saat ini. Agenda seperti ini menjadi sangat penting untuk
mendekatkan mahasiswa dengan diskursus ekonomi dunia nyata yang sering kali
tidak diajarkan di ruang kelas. Dengan pengalaman ini, diharapkan mahasiswa
bisa lebih siap menghadapi tantangan ekonomi global ke depan dan menjadi
generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi Indonesia.