Rojali dan Rohana dalam Kacamata Gen Z
Narasumber : Dr. Lucky Rachmawati, S.E., M.Si.
Penulis : Diva Novana Widia Putri
Surabaya, 11 Agustus, 2025 – Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) belakangan kembali mencuat di ruang publik, khususnya di media sosial. Meski terkesan baru, perilaku konsumen ini sejatinya sudah lama terjadi, hanya saja kini menjadi viral berkat keterbukaan akses informasi dan masifnya penggunaan media digital.
Menurut Dr. Lucky Rachmawati, S.E., M.Si., Dosen Ekonomi dari Program Studi (Prodi) Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), perilaku ini erat kaitannya dengan keinginan konsumen untuk menunjukkan eksistensinya di kehidupan sosial. "Ngemall bukan hanya soal membeli sesuatu, tetapi juga menjadi bentuk eksistensi dalam masyarakat. Bahkan, bagi sebagian masyarakat ekonomi menengah ke bawah di perkotaan, mall sudah dianggap sebagai obyek wisata untuk mengurangi kejenuhan aktivitas," jelasnya.
Selanjutnya, beliau menambahkan bahwa perkembangan era digital juga memperkuat tren ini. Banyak masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja secara daring, menjadikan aktivitas ke mall sekadar opsi dalam mencari referensi barang. "Konsumen biasanya akan membandingkan barang yang dilihat langsung di mall dengan yang ada di toko online, baik dari segi tampilan maupun harga. Daya beli masyarakat sebenarnya tetap, hanya saja pola belanjanya mulai beralih dari offline ke online," paparnya.
Meski demikian, Doktor kelahiran Jember itu menilai fenomena ini bukanlah ancaman mutlak bagi pelaku usaha, melainkan peluang untuk berinovasi. Pelaku usaha yang adaptif dapat mencari cara mengakomodasi perilaku Rojali dan Rohana agar tetap berkontribusi pada penjualan. Pelaku usaha dapat menangkap peluang yang ada sehingga tidak kehilangan potensi income generating dari pembelian secara langsung.
Salah satunya melalui penyelenggaraan event di pusat perbelanjaan yang dapat mengarahkan konsumen pada pembelian langsung, dengan menonjolkan nilai prestise yang tidak bisa didapatkan dari belanja online. "Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan karena pasar semakin terbuka luas. Namun tentu dibutuhkan kemauan dan kemampuan untuk bertumbuh atau growth mindset. Pemerintah juga bisa mengambil peran dengan memberikan pelatihan kepada pelaku usaha agar mereka lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen," tutupnya.
Disisi lain, menurut Ensita Putri Ramadhani, mahasiswi Departemen Statistika Bisnis, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan perilaku konsumen yang rasional dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap paling penting. “Konsumen dalam kelompok ini menerapkan prinsip opportunity cost, yakni memilih pengeluaran yang memberikan manfaat terbesar dan menunda atau menghindari pembelian yang sifatnya hanya untuk keinginan,” ujarnya.
Menurutnya, perilaku tersebut juga menjadi gambaran nyata daya beli masyarakat yang stagnan atau bahkan menurun, terutama di kalangan menengah ke bawah. Faktor seperti inflasi, kenaikan harga barang pokok, dan pergeseran pola konsumsi akibat perkembangan teknologi turut memengaruhi keputusan mereka. Kecenderungan membandingkan harga di toko fisik dan online shop sebelum membeli menunjukkan bahwa konsumen semakin cermat dalam mencari nilai terbaik dari setiap rupiah yang dikeluarkan.
“Hal ini tidak hanya berdampak pada pola konsumsi, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan strategi pemasaran yang lebih kreatif dan kompetitif terutama di era digital ini,” bebernya.
Ia menekankan pentingnya pelayanan yang ekspresif dan responsif kepada penjual sehingga berpotensi mendorong konsumen untuk melakukan pembelian. Sebaliknya, apabila penjual menunjukkan sikap negatif, konsumen dapat merasa tidak nyaman sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan transaksi.