Desa Bangah Ubah Ibu Rumah Tangga Jadi Womenpreneur
Penulis : Dr, Maula Fadhilata Rahmatika S. E., M. E.
Surabaya, 28 Juli 2025—Puluhan ibu rumah tangga di Desa Bangah, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini mulai berperan sebagai womenpreneur berkat program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Kegiatan yang berlangsung pada 20 Juli 2025 ini diikuti 52 peserta, didominasi ibu rumah tangga dan remaja putri, dengan tujuan menguatkan kemandirian ekonomi keluarga melalui usaha rumahan yang dikelola lebih terarah dan profesional. Tim pengabdian, Andaru Rachmaning Dias Prayitno, menyebut tiga masalah utama yang coba dijawab program ini: keterbatasan akses modal, rendahnya literasi keuangan dan digital, serta beban ganda perempuan antara kerja domestik dan usaha.
Dengan pendekatan lecture–demonstration–discussion, peserta pertama-tama diajak memahami konsep womenpreneur dan pentingnya pencatatan usaha, lalu masuk ke praktik menghitung harga pokok produksi (HPP) dan menentukan harga jual yang wajar. Mereka diminta membawa resep andalan masing-masing, kemudian menghitung semua biaya baik mulai dari bahan baku, gas, listrik, kemasan, hingga tenaga kerja yang selama ini tidak pernah dimasukkan. Banyak peserta mengaku baru sadar bahwa selama ini produk dijual di bawah harga pokok. “Biasanya saya ikut harga tetangga, ternyata kalau dihitung seharusnya harga kue bisa naik seribu sampai dua ribu rupiah per bungkus,” ujar Siti, salah satu peserta.
Untuk menjawab persoalan modal dan pemasaran, tim mendorong lahirnya skema “Arisan Usaha” sebagai modal bergulir serta penguatan literasi digital. Tradisi arisan yang sudah akrab di kalangan ibu-ibu diarahkan menjadi instrumen produktif guna menambah alat produksi dan membeli bahan baku dalam jumlah besar. Di sisi lain, peserta dilatih memotret produk, menulis deskripsi singkat yang menarik, dan memanfaatkan status WhatsApp maupun media sosial sebagai etalase digital. Setelah pelatihan, grup WhatsApp “Womenpreneur Bangah” aktif berisi foto produk, daftar harga, dan informasi pesanan, sekaligus menjadi ruang saling dukung antaranggota.
Dampak program mulai tampak dari peningkatan pengetahuan dan terbentuknya kelompok usaha baru. Melalui pre-test dan post-test sederhana, pemahaman peserta tentang womenpreneur, HPP, dan pemasaran digital tercatat naik lebih dari dua kali lipat, dari skor rata-rata 1,9 menjadi 4,0 dalam skala lima. Tiga kelompok usaha resmi lahir: “Sri Rejeki” (keripik gadung dan singkong), “Rintisan Gadis Bangah” (camilan kering remaja putri), dan “Dapur Bangah” (paket katering rumahan). Tim pengabdian berharap ke depan dukungan pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pihak swasta dapat memperkuat langkah para womenpreneur ini melalui fasilitasi izin PIRT, pelatihan desain kemasan, serta akses ke bazar UMKM, sehingga ibu-ibu Desa Bangah tidak hanya “kuat di dapur”, tetapi juga semakin kuat di pasar dan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.