Humor atau Realita? Gen Z dan Fenomena “In This Economy”
Narasumber : Dr. Maula Fadhilata Rahmatika, S.E., M.E.
Pemulis : Diva Novana Widia Putri
Surabaya, 8 Agustus 2025 – Fenomena frasa sederhana “In This Economy?” kini marak digunakan di media sosial sebagai bentuk ekspresi generasi muda. Ungkapan ini sering muncul dalam video yang mengeluhkan harga sewa apartemen, komentar tentang biaya pernikahan, hingga sekadar caption pada segelas minuman kekinian dengan harga selangit. Meski terkesan hanya sebagai dark joke, ungkapan tersebut sejatinya mencerminkan kegelisahan ekonomi yang nyata.
Menurut Dr. Maula Fadhilata Rahmatika, S.E., M.E. Dosen Ekonomi dari Program Studi (Prodi) S1 Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), fenomena ini merupakan gejala struktural yang tidak bisa dipandang remeh. Secara ekonomi, frasa ini adalah respons atas kondisi makroekonomi yang tidak lagi berpihak pada generasi muda kelas menengah. Inflasi kebutuhan pokok dan perumahan menggerus daya beli, sementara upah riil stagnan. “Impian punya rumah semakin jauh, dan lapangan kerja pun banyak yang rapuh karena gig economy,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Doktor muda tersebut juga menambahkan bahwa dari perspektif perilaku konsumen, frasa ini menjadi semacam mekanisme pertahanan diri (coping mechanism). Generasi muda mengubah keresahan menjadi humor yang bisa dikelola dan dibagikan. Hal itu sekaligus membangun solidaritas, membuat mereka lebih sensitif terhadap harga, lebih memilih pengalaman daripada kemewahan, serta mendefinisikan ulang makna kesuksesan. Menurutnya, ukuran kesuksesan kini tidak lagi sebatas kepemilikan materi, tetapi juga kesehatan mental, kebebasan finansial, dan keseimbangan hidup.
Frasa “In This Economy” bukan sekadar lelucon, tetapi juga indikator nyata keresahan ekonomi generasi muda. Sebagai humor, ia membantu mengurangi stres dengan membuat kecemasan lebih relatable. Namun, di sisi lain frasa ini mencerminkan ketidakmerataan manfaat pertumbuhan ekonomi dan beban yang tidak proporsional pada generasi muda. “Mengabaikannya hanya sebagai guyonan adalah keliru, sebab ia menjadi cermin zaman yang menunjukkan bagaimana generasi muda bernegosiasi dengan realitas ekonomi yang keras,” imbuhnya.
Sementara itu, Yuliani Kartikasari selaku mahasiswi Prodi S1 Ekonomi Syariah (Ekis), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa) turut menuturkan pandangannya. Menurutnya, fenomena “in this economy?” dapat menjadi gambaran kondisi yang dialami sebagian besar mayoritas Gen Z saat ini. “Hidup makin mahal, tapi penghasilan atau uang saku nggak sebanding. Jadi banyak Gen Z pakai istilah ini buat bercanda sekaligus nyindir realita finansial,” katanya.
Disisi lain, Lia jjuga menekankan pentingnya keterampilan mengelola keuangan sejak dini, seperti menabung dan mencari peluang tambahan untuk meningkatkan pendapatan. “Jangan terlalu terjebak pola pikir ‘hidup cuma sekali’, karena kita nggak tahu ekonomi ke depan bakal seperti apa,” tambahnya.
Fenomena “In This Economy?” pada akhirnya bukan hanya candaan semata, melainkan potret sosial-ekonomi yang menegaskan bahwa generasi muda tengah bernegosiasi dengan realitas hidup yang semakin kompleks.