“Mantab” dalam Kacamata Gen Z: Antara Bertahan Hidup dan Kehilangan Masa Depan
Narasumber : Ladi Wajuba Perdini Fisabilillah, S.Pd., M.SE.
Penulis : Diva Novana Widia Putri
Senin, 2 Februari 2026 – Fenomena Mantab (Makan Tabungan) belakangan menjadi Isu hangat yang menjadi perbincangan masyarakat di berbagai platform media sosial. Istilah ini menggambarkan kondisi masyarakat, terutama kelas menengah, yang terpaksa menguras simpanan darurat hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Meski bukan fenomena baru, Mantab kembali mencuat seiring meningkatnya tekanan ekonomi dan meluasnya kesadaran publik akan kerentanan finansial di tengah ketidakpastian.
Menurut Ladi Wajuba Perdini Fisabilillah, S.Pd., M.SE. Dosen Ekonomi dari Program Studi (Prodi) Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), istilah ini merujuk pada kondisi rumah tangga yang menggunakan penghasilannya tidak hanya untuk konsumsi jangka pendek melainkan mulai menguras tabungan rumah tangga yang semula akan digunakan untuk kebutuhan darurat atau masa depan. “Tren ini mencerminkan ada tekanan pada kemampuan ekonomi rumah tangga demi menjaga stabilitas finansial” imbuhnya.
Data Bank Indonesia per Juli 2025 menunjukkan proporsi pendapatan untuk konsumsi mencapai 75,4%, sementara alokasi tabungan menyusut menjadi hanya 13,7%. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan pengeluaran per kapita kelas menengah sebesar 142% dalam lima tahun terakhir, dari Rp2,36 juta menjadi Rp3,35 juta per bulan pada 2024. Namun, kenaikan biaya hidup ini tidak diimbangi upah yang sepadan. "Hampir semua sektor usaha mengalami penurunan upah riil dalam lima tahun terakhir," tambahnya, meski secara nominal upah naik, dayanya tergerus inflasi.
Dampaknya, ketahanan finansial rumah tangga melemah karena tabungan darurat terkikis, sehingga rentan terhadap kejadian tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Selain itu, ketergantungan pada utang konsumtif, baik formal maupun informal berisiko menimbulkan masalah finansial berkepanjangan.
Sebagai solusi, beliau menekankan pentingnya disiplin anggaran dengan memisahkan rekening konsumsi dan tabungan, mengendalikan gaya hidup konsumtif, serta mencari tambahan pendapatan. "Solusinya bukan hanya menahan konsumsi, tapi membangun sistem keuangan rumah tangga yang sehat dan berkelanjutan," pungkasnya.
Fenomena Mantab (Makan Tabungan) yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial bukan sekadar wacana. Generasi Z, yang saat ini berada di usia produktif, turut merasakan dampaknya secara langsung. Tiara Ramadanty Ruliff, mahasiswa S1 Agroteknologi UPN Veteran Jawa Timur sekaligus relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), mengaku bahwa dirinya dan lingkungan terdekat telah mengalami kondisi tersebut. "Iya, kerasa banget. Bahkan di circle terdekatku pun ada yang udah mulai 'makan tabungan' karena gaji atau uang bulanan nggak cukup," ujarnya.
Ia mencontohkan temannya yang terpaksa mengambil tabungan untuk membeli laptop karena kebutuhan pokok membengkak. "Aku sendiri juga pernah ngalamin. Jadi fenomenanya tuh real banget, bukan sekadar teori," tambah Tiara.
Menurutnya, faktor pemicunya beragam; biaya hidup naik, pendapatan belum stabil, tekanan gaya hidup, dan tuntutan produktivitas. "Bukan karena boros doang, tapi memang kondisinya lebih berat dibanding generasi sebelumnya," paparnya.
Untuk bertahan, ia menerapkan budgeting 40-30-20-10, mencatat pengeluaran, dan mencari side hustle. "Intinya, aku mencoba lebih mindful soal uang. Karena kalau nggak dijaga, gampang banget kebawa arus dan akhirnya pakai tabungan lagi," pungkasnya.