Pergantian Menkeu: Antara Harapan, Tantangan, dan Pandangan Gen Z
Narasumber: Dr. Hendry Cahyono, S. E., M. E.
Penulis: Diva Novana Widia Putri
Surabaya, 17 September 2025 – Pergantian kursi Menteri Keuangan (Menkeu) dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan publik dan memunculkan beragam pandangan. Perubahan ini dinilai bukan hanya soal posisi strategis dalam kabinet, tetapi juga berkaitan langsung dengan kredibilitas fiskal dan kepercayaan masyarakat terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Dr. Hendry Cahyono, S. E., M. E., selaku dosen Program Studi (Prodi) S1 Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menilai Menkeu baru Purbaya Yudhi akan menghadapi tantangan berat dipermulaan masa jabatannya. “Tentu Menkeu baru Purbaya membutuhkan waktu untuk membuktikan kredibilitas kinerjanya. Mengingat Bu Sri Mulyani sudah menjabat selama 14 tahun, ini beban psikologis sekaligus tugas berat bagi Menkeu baru. Pembuktian kinerja fiskal harus segera bisa dinikmati masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa dinamika perubahan ini merupakan bagian dari agenda penguatan visi presiden. Ia mengapresiasi capaian Sri Mulyani dalam meningkatkan pendapatan negara melalui pajak, namun tetap menyoroti tantangan ke depan. “Tinggal dilihat saja tahun depan, apakah pertumbuhan pendapatan negara melalui pajak maupun PNBP setinggi tahun sebelumnya. Karena hal ini juga akan memengaruhi defisit anggaran. Indikator kinerja fiskal di bawah Menkeu Purbaya akan mudah diukur, masyarakat bisa menilai,” tambahnya.
Doktor kelahiran Pamekasan tersebut juga menyoroti terkait pentingnya menjaga daya beli masyarakat, terutama kelas menengah rentan. “Melemahnya daya beli harus menjadi perhatian utama. Dalam jangka pendek, sisi demand harus digenjot, bisa dengan cara BLT, PKH, atau subsidi listrik rumah tangga 1.300 kWh. Mustahil ekonomi digerakkan tanpa memperhatikan permintaan agregat,” tegasnya.
Sementara itu, pandangan mahasiswa turut memberikan perspektif berbeda. Fariz Al Thoriq, mahasiswa semester 7, Prodi S1 Ekonomi, FEB Unesa, mengungkapkan bahwa pergantian Menkeu ini menimbulkan rasa optimis sekaligus kekhawatiran. “Menurutku, dampak dari pergantian Menkeu baru ini sedikit memberikan harapan baru bagi citra dan kepercayaan publik. Tapi jelas ada efek negatif jangka pendek yang besar bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri,” ucapnya.
Ia menilai kebijakan fiskal ke depan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan kebijakan pada masa Sri Mulyani. “Pernyataan Menkeu baru yang mengatakan akan melanjutkan kebijakan Bu Sri Mulyani membuat tiga poin penting ekonomi, yaitu belanja pemerintah, defisit anggaran, dan pendapatan negara, tidak akan banyak berubah,” jelasnya.
Namun, Ia optimistis terhadap langkah Purbaya dalam memindahkan setengah dana simpanan pemerintah di BI ke Himbara. “Itu pasti menciptakan efek domino ke sektor riil. Dengan adanya fresh money, Himbara akan segera menyalurkan kredit. Harapannya, penyaluran kredit lebih banyak ke UMKM dan mikro karena dampaknya cepat terasa di masyarakat,” tambahnya.
Sebagai bagian dari generasi Z, Fariz berharap pergantian Menkeu baru ini bisa memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia. “Saya berharap kondisi ekonomi domestik tetap stabil dengan pertumbuhan yang sehat. Menkeu harus bijak dalam membuat kebijakan fiskal dan moneter, serta sering berkoordinasi dengan presiden dan kementerian terkait agar bisa melahirkan kebijakan sektoral. Dengan begitu, tingkat pengangguran bisa berkurang dan lapangan kerja semakin terbuka,” tuturnya.
Pergantian Menkeu ini menjadi babak baru yang penuh harapan sekaligus ujian. Publik menantikan apakah Purbaya mampu menjaga kepercayaan pasar, memperkuat daya beli masyarakat, serta menghadirkan kebijakan yang inklusif dan pro-rakyat di tengah dinamika global yang tidak pasti.