DARI PUNCAK KEJAYAAN HINGGA PAILIT: PELAJARAN DARI KEJATUHAN SRITEX?

Penulis: Elyada Christi Octavia
Editor: Fafa Dwi Hari Widiyantoro
Surabaya, 7
Maret 2025 - Raksasa industri tekstil yang telah berdiri sejak 1966, Sritex
akhirnya harus menyerah setelah 58 tahun beroperasi. Perusahaan yang pernah
menjadi kebanggaan Indonesia sebagai pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara
ini resmi dinyatakan pailit dan menutup operasionalnya pada 1 Maret 2025.
Kejatuhan Sritex bukan sekadar akibat persaingan bisnis yang semakin ketat,
tetapi juga kegagalan dalam memenuhi kewajiban utang kepada para kreditur.
Pengadilan memutuskan status pailit perusahaan ini pada Oktober 2024, setelah
permohonan pembatalan homologasi diajukan oleh PT Indo Bharat Rayon. Kasus ini menjadi
pengingat bagi banyak perusahaan bahwa pengelolaan finansial yang buruk bisa
menjadi bom waktu yang akhirnya meledak, menghancurkan bisnis yang tampaknya
kuat sekalipun.
Keputusan pailit
yang menimpa Sritex bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat berbagai
faktor yang saling berkaitan dan semakin memperburuk kondisi keuangan
perusahaan. Manajemen Sritex mengakui bahwa pendapatan mereka mengalami
penurunan drastis, sebagaimana dijelaskan dalam tanggapan terhadap surat dari
Bursa Efek Indonesia pada 21 Juni 2024. Salah satu penyebab utama dari
kemerosotan ini adalah pandemi Covid-19 yang berdampak besar terhadap daya beli
masyarakat serta mengganggu rantai pasokan industri tekstil. Selain itu, persaingan
industri global semakin ketat, terutama dengan masuknya suplai tekstil berlebih
dari Cina yang menyebabkan praktik dumping, di mana produk dijual lebih murah
di pasar luar negeri. Di sisi lain, beban utang Sritex yang semakin besar juga
memperburuk kondisi keuangan perusahaan, membuatnya kesulitan dalam memenuhi
kewajiban pembayaran. Meskipun sempat mencoba melakukan restrukturisasi utang,
upaya tersebut gagal memberikan dampak yang cukup signifikan untuk
menyelamatkan perusahaan. Kombinasi dari tekanan ekonomi global, ketidakmampuan
bersaing di pasar internasional, serta buruknya pengelolaan keuangan pada
akhirnya membawa Sritex menuju kebangkrutan yang tak terhindarkan.
Kasus ini
memberikan pelajaran berharga bagi dunia bisnis, terutama mengenai pentingnya
manajemen keuangan dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan ekonomi. Agar
tidak mengalami nasib serupa, perusahaan harus memiliki strategi bisnis yang
matang serta mampu beradaptasi dengan tantangan yang terus berkembang.
Pengelolaan utang yang sehat menjadi faktor utama yang harus diperhatikan, di
mana perusahaan perlu memastikan bahwa utang yang diambil digunakan secara
produktif dan memiliki rencana pembayaran yang jelas agar tidak menjadi beban
di kemudian hari. Selain itu, kesiapan menghadapi perubahan ekonomi global juga
sangat penting, terutama dalam menghadapi tantangan seperti pandemi dan
persaingan industri yang semakin ketat. Fleksibilitas operasional dan strategi
cadangan dapat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Diversifikasi
produk dan pasar juga menjadi langkah krusial untuk menghindari ketergantungan
pada satu sumber pendapatan, sehingga bisnis tetap stabil meskipun ada
perubahan dalam tren pasar.
Kasus Sritex
menjadi pengingat bahwa kejayaan dalam dunia bisnis tidak akan bertahan lama
tanpa manajemen yang cermat dan kesiapan menghadapi perubahan. Kebangkrutan
perusahaan ini bukan hanya sekadar kegagalan finansial, tetapi juga bukti bahwa
strategi bisnis yang kurang fleksibel dapat membawa dampak besar bagi
kelangsungan usaha. Melihat berbagai faktor yang menyebabkan Sritex terpuruk,
perusahaan lain seharusnya belajar dari kasus ini agar tidak mengalami nasib
serupa. Dengan menerapkan tata kelola yang baik, memperkuat daya saing melalui
diversifikasi, serta memiliki strategi keuangan yang sehat, bisnis dapat lebih
siap menghadapi tantangan ekonomi global. Pada akhirnya, pertumbuhan perusahaan
bukan hanya soal ekspansi besar-besaran, tetapi juga seberapa baik ia mampu
mengelola risiko dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
TEMPO.CO (5 MARET 2025). Sritex Tutup: Landasan Hukum
Perusahaan Dinyatakan Paillit. Diakses pada: https://www.tempo.co/ekonomi/sritex-tutup-landasan-hukum-perusahaan-dinyatakan-pailit-1215397
TEMPO.CO (26 Oktober 2024). Kenapa Sritex Bisa
Pailit?. Diakses pada: https://www.tempo.co/ekonomi/kenapa-sritex-bisa-pailit--1159985
Kompasiana (25 Oktober 2025) . Belajar dari Pemailitan
Sritex, Pentingnya Manajemen Hutang dan Fleksibilitas dalam Bisnis. Diakses
pada: https://www.kompasiana.com/merzagamal8924/671ba189c925c4202453a672/belajar-dari-kasus-pemailitan-sritex-pentingnya-manajemen-hutang-dan-fleksibilitas-dalam-bisnis?page=all#goog_rewarded
KORPORA CONSULTING (24 Oktober 2024). Belajar Online:
Mengahadapi Tantangan Bisnis Ala Sritex Pailit. Diakses pada: https://korporaconsulting.com/belajar-online-menghadapi-tantangan-bisnis-ala-sritex-pailit/