POTENSI PERLAMBATAN EKONOMI CHINA DAN PERBANDINGANNYA DENGAN JEPANG

Penulis: Ayu Ratnaningsih
Editor: Fafa Dwi Hari Widiyantoro
Surabaya, 28 Februari 2025 - Sejak gelembung
real-estate China pecah pada pertengahan 2021, muncul kekhawatiran bahwa
ekonomi negara tersebut bisa mengikuti jejak Jepang pada awal 1990-an. Kesamaan struktural antara keduanya cukup mencolok,
terutama dalam konsumsi swasta yang rendah dalam jangka panjang serta rasio
tabungan yang sangat tinggi. Ketidakseimbangan ekonomi ini bahkan lebih besar
di China dibandingkan Jepang pada masa itu.
Respon awal terhadap krisis real-estate di kedua
negara juga serupa. Baik China saat ini maupun Jepang pada masa lalu sempat
ragu untuk melonggarkan kebijakan moneter dan fiskal, serta lebih memilih
ekspansi manufaktur berbasis permintaan eksternal dengan peningkatan belanja
penelitian dan pengembangan. Akibatnya,
keduanya mengalami surplus perdagangan yang terus berlanjut, memicu langkah
proteksionis dari Amerika Serikat. China juga tampaknya mengikuti strategi
Jepang dalam memindahkan produksi ke luar negeri guna mengurangi dampak
proteksionisme.
Namun, perbedaan utama adalah bahwa China masih memiliki
peluang konvergensi ekonomi lebih lanjut karena tingkat pendapatannya lebih
rendah dibandingkan Jepang saat itu. Selain itu, China memiliki bobot
geopolitik dan militer yang jauh lebih besar dibandingkan Jepang pada era
1980-an, yang membuatnya menghadapi upaya pembatasan teknologi dari AS
sekaligus memiliki ruang gerak lebih luas di kancah global, terutama di
negara-negara Global South.
Dalam beberapa dekade terakhir, China mengalami
perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dari 14 persen pada 2007
menjadi hanya sekitar 5 persen saat ini, bahkan lebih rendah dalam nilai
nominal akibat deflasi. Kondisi ini semakin memperkuat perbandingan dengan
‘dekade yang hilang’ Jepang.
Ketidakseimbangan makroekonomi di kedua negara ditandai
dengan tingginya tingkat tabungan dan investasi yang relatif rendah. Jepang
mengalami penurunan investasi tetap yang tajam dari rata-rata 4,7 persen pada
1980-an menjadi 0,34 persen pada 1990-an. Sementara itu, investasi China
mencapai puncaknya pada era 2000-an dengan pertumbuhan 14,2 persen, sebelum
melambat menjadi 7,7 persen pada 2010-an akibat penurunan sektor real-estate.
Dalam konteks real-estate, Jepang mengalami perlambatan pertumbuhan nilai tambah
dari 3,7 persen pada 1980-an menjadi 2,1 persen pada 1990-an, sedangkan China
mengalami perlambatan dari 10,7 persen pada 2000-an menjadi 5,11 persen pada
2010-an.
Krisis keuangan di Jepang dipicu oleh deleveraging sektor
korporasi, sedangkan di China, risikonya lebih berkaitan dengan utang besar
pemerintah daerah yang dikelola melalui Local Government Financing Vehicles
(LGFVs). Meskipun pemerintah China telah mengambil langkah-langkah mitigasi,
ketidakseimbangan struktural masih berlanjut, menimbulkan kekhawatiran akan
pendaratan keras bagi perekonomian China.
Penurunan investasi umumnya mendorong peralihan ke model
pertumbuhan berbasis konsumsi, sebagaimana yang terjadi di Jepang pada 1990-an.
Namun, China masih memiliki tingkat tabungan yang sangat tinggi, jauh melebihi
rata-rata negara lain. Penyebab utamanya adalah ketiadaan sistem kesejahteraan
yang kuat, rendahnya cakupan asuransi swasta, serta ketidakpastian ekonomi dan
geopolitik, terutama akibat kebijakan pembatasan yang diterapkan AS sejak
pemerintahan Donald Trump.
Meskipun China telah mengalami penurunan surplus neraca
berjalan, ketidakseimbangan masih terjadi. Harapan bahwa pertumbuhan kelas
menengah akan mendorong peningkatan konsumsi belum sepenuhnya terealisasi, dan
surplus neraca berjalan tetap bertahan di sekitar 2 persen, mirip dengan
kondisi Jepang pada awal 2000-an.
Strategi pembatasan ekonomi AS terhadap China juga
memiliki kemiripan dengan kebijakan terhadap Jepang pada 1980-an, termasuk
penerapan tarif, kuota, serta upaya membatasi sektor teknologi tertentu. Jepang
saat itu mengalami tekanan besar, termasuk perjanjian perdagangan semikonduktor
AS-Jepang 1986 dan Plaza Accord yang mendorong apresiasi yen.
China kini menghadapi tantangan yang mirip, terutama
dalam kelebihan kapasitas industri yang berpotensi menyebabkan tekanan deflasi
seperti yang dialami Jepang selama dua dekade. Namun, perbedaan utama terletak
pada tingkat konsumsi domestik yang lebih rendah serta dominasi negara dalam
perekonomian China. China juga memiliki keunggulan dalam inovasi teknologi,
meskipun dampak peningkatan produktivitas dari inovasi ini masih belum
sepenuhnya terlihat.
Jepang memberikan pelajaran berharga bahwa keunggulan
teknologi saja tidak cukup untuk menghindari perlambatan ekonomi jika tidak
diimbangi dengan pertumbuhan konsumsi domestik. China saat ini masih menghadapi
tantangan besar dalam menyeimbangkan pertumbuhan, sementara faktor eksternal
seperti proteksionisme global semakin memperumit keadaan. Dengan berbagai
kesamaan dan perbedaan yang ada, masa depan ekonomi China masih menjadi
perdebatan global yang signifikan.
Bruegel (27 Februari 2025) Will China’s economy follow the same path as Japan’s? Diakses dari: https://www.bruegel.org/policy-brief/will-chinas-economy-follow-same-path-japans